HARIAN SUMUT- Sebuah pos satpam warna hijau berdiri di samping gerbang utama sebuah kompleks perumahan. Ratusan rumah berjajar rapi di kawasan yang rawan peredaran narkoba. Seperti di banyak kota lain, inilah cerita miris jahatnya narkoba dari pinggiran Bekasi.
“Disini orangnya individualis, lo lo, gue gue,” kata Elischa (28), warga kompleks perumahan itu, saat membuka perbincangan dengan wartawan.
Elischa sejak kecil tinggal di kompleks perumahan kelas menengah tersebut sehingga akrab dengan dinamika yang terjadi di lingkungan, termasuk narkotika. Ada yang ditangkap polisi, jadi buronan atau dipenjara. “Kemarin di jalan sebelah ada yang digerebek, ya narkoba lagi,” ujar Elischa.
Rumah Elischa sendiri berada di sebuah jalan yang tidak jauh dari pos satpam. Jalan di depan rumah sepanjang 100 meter buntu dan berdiri 20-an rumah yang saling berhadapan.
“Tetangga sebelah rumah saya ada yang makai narkoba sejak kuliah, lalu bekerja, punya anak 4. Sempat masuk penjara dan sempat pula masuk pesantren tapi kabur. Lalu masuk penjara, tidak beberapa lama meninggal dunia karena HIV/AIDS,” cerita Elischa.
Di depan rumah Elischa, ada pula yang mulai memakai narkoba sejak SMA. Sempat overdosis dan hampir meninggal dunia, tapi bisa diselamatkan oleh keluarganya. Setelah itu ikut rehabilitasi dan tidak lagi mengkonsumsi narkoba. Meski demikian, narkotika telah menyerang syaraf otak sehingga anak tersebut kini mengalami penurunan fungsi otak.
“kalau malam-malam suka menjerit-jerit sendiri. Kalau dibanding dengan anak idiot, masih lebih bagus anak idiot. Kalau ini diajak ngomong saja tidak nyambung. Akhirnya dipindahkan ke Kalimantan,” tuturnya lagi.
Adapun rumah sebelahnya dihuni keluarga besar. Mereka akrab dengan narkotika. “Kalau Cuma ganja mereka sudah biasa,” kata Elischa. Narkoba memang telah merasuki segala segi kehidupan dan bagaikan virus yang mudah menular. Karena itu keluarga harus ekstra hati-hati agar anak-anak mereka tidak mencicipi narkotika. “Ya beginilah kompleks saya. Kalau saya, merokok saja tidak pernah,” ujar Elischa.
Menyusul eksekusi mati 6 gembong narkoba telah dilakukan, tahun ini pemerintah Indonesia menyatakan perang terhadap narkoba. Sayangnya, langkah pemerintah itu ditentang negara sahabat seperti Brasil dan Belanda dengan menarik dubesnya. Pemerintah diminta tidak gentar. (hs)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar