ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Cewek 28 Tahun, Disiksa Ibu Tiri Selama 9 Tahun
(Foto Luka di Sekujur Tubuh Akibat Penyiksaan Selama 9 Tahun/dok)

HARIAN SUMUT | MEDAN - Naas Bagi Cristina Natalia Panjaitan, Kisah penyiksaan Maria Cristina Natalia Panjaitan (28) yang dilakukan oleh ibu tirinya, membuat Cristina mengalami trauma yang mendalam.

Kemudian wartawan dengan menyambangi rumah ibu tirinya, Saktiana boru Siahaan di Jalan Selam VI, No. 42, Kel. Tegal Sari Mandala I, Kec. Medan Denai, Selasa (3/2) malam.

Namun ketika wartawan mendatangi rumah tersebut, seorang pemuda berbadan gemuk berkulit gelap mengenakan kaos abu-abu dipadu celana pendek, beralih kalau Saktiana tidak tinggal di situ.

“Bukan di sini rumahnya, cari aja ke ujung-ujung sana,” ujarnya dengan nada tinggi disaksikan dua temannya yang tengah nongkrong di pagar rumah.

Saat ditanya ulang, pemuda yang belakangan diketahui adalah putra Saktiana langsung berang. “Tanya sama kepling,” ujarnya sambil membuang rokok di tangannya, seakan berusaha menutupi sesuatu.

Beberapa tetangga yang saat itu diwawancarai mengaku tidak mengetahui perihal penyiksaan terhadap Maria.

“Waduh, kalau soal itu gak pernah tahu kita, kalau ada penyiksaan. Karena tertutup orangnya,” jelas pria paruh baya yang rambutnya yang sudah memutih ini.

 Walau pun begitu, pria ini menegaskan kalau korban memang tinggal di rumah tersebut. “Kalau anak itu (korban) memang tinggal di situ, tapi jarang keluar anaknya, dia di rumah terus,” terangnya.

Di lingkungan itu, keluarga Saktiana dikenal sebagai orang pasaran di luar kota. “Kalau adik-adik dari mamaknya itu memang dikenal ngerilah. Ada yang ajudan Ketua PP Sedunia, Yapto di Jakarta. Keluarga premanlah bisa kita bilang,” jelasnya tanpa mau memberitahukan namanya.

Senada juga, Kepala Lingkungan IX Kel. Tegal Sari Mandala I, Pak Pohan alias Ucok juga mengaku baru mengetahui perihal penyiksaan yang dialami Maria. “Baru tahu lah kalau ada kejadian ini. Biasanya kalau ada sesuatu, pasti warga ada yang ngabari,” ungkapnya sebagaimana di lansir sumutpos.co saat ditemui di rumahnya.

Saat ditanyai mengenai tempramen dari ibu tiri korban, dirinya mengatakan kalau sering berjumpa dengan kedua orang korban. “Kalau mamaknya itu, orangnya biasa aja. Kalau disakiti, siapa yang nggak marah,” ujarnya.

“Kalau nggak salah bapaknya guru di Sibolga. Jadi pulangnya seminggu sekali. Kalau anaknya (Maria) ini kuliah di Unimed. Karena kemarin sempat ngurus Kartu Keluarga mau masuk kuliah,” jelasnya namun tidak mengetahui nama ayah korban.(sp/hs)

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama

Tidak ada komentar:


Top